Minggu, 05 Mei 2013

SUKU DAYAK DI KALIMANTAN



Asal mula

Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.
Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 60 000 dan 70 000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini "Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.
Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan perpindahan suku Dayak dari daerah hulu menuju daerah hilir sungai.
Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).
Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam keluar dari suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Amas dan Watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum). Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai.[rujukan?] Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming yang tercatat dalam Buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin dan disebutkan bahwa seorang Pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti Sultan Hidayatullah I . Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736.
Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.





Tradisi Penguburan Suku Dayak

Peti kubur di Kutai. Foto tersebut merupakan foto kuburan Dayak Benuaq di Kutai. Peti yang dimaksud adalah Selokng (ditempatkan di Garai). Ini merupakan penguburan primer - tempat mayat melalui Upacara/Ritual Kenyauw. Sementara di sebelahnya (terlihat sepotong) merupakan Tempelaq yang merupakan tempat tulang si meninggal melalui Upacara/Ritual Kwangkay.
Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :
penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
penguburan di dalam peti batu (dolmen)
penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.
Menurut tradisi Dayak Benuaq baik tempat maupun bentuk penguburan dibedakan :
wadah (peti) mayat--> bukan peti mati : lungun, selokng dan kotak
wadah tulang-beluang : tempelaaq (bertiang 2) dan kererekng (bertiang 1) serta guci.
berdasarkan tempat peletakan wadah (kuburan)
Suku Dayak Benuaq :

  • lubekng (tempat lungun)
  • garai (tempat lungun, selokng)
  • gur (lungun)
  • tempelaaq dan kererekng



Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan:

  • penguburan tahap pertama (primer)
  • penguburan tahap kedua (sekunder).



Penguburan primer

  • Parepm Api (Dayak Benuaq)
  • Kenyauw (Dayak Benuaq)

Penguburan sekunder
Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua. Di hulu Sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit.
Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni :

  • dikubur dalam tanah
  • diletakkan di pohon besar
  • dikremasi dalam upacara tiwah.



Konflik 


Keterlibatan
Dayak (istilah kolektif untuk masyarakat asli Kalimantan) telah mengalami peningkatan dalam konflik antar etnis. Di awal 1997 dan kemudian pada tahun 1999, bentrokan-bentrokan brutal terjadi antara orang-orang Dayak dan Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Puncak dari konflik ini terjadi di Sampit pada tahun 2001. Konflik-konflik ini pun kemudian menjadi topik pembicaraan di koran-koran di Indonesia. Sepanjang konflik tahun 1997, sejumlah besar penduduk (baik Dayak maupun Madura) tewas. Muncul berbagai perkiraan resmi tentang jumlah korban tewas, mulai dari 300 hingga 4.000 orang menurut sumber-sumber independen. Pada tahun 1999, orang-orang Dayak, bersama dengan kelompok-kelompok Melayu dan Cina memerangi para pendatang Madura; 114 orang tewas. Menurut seorang tokoh masyarakat Dayak, konflik yang terjadi belakangan itu pada awalnya bukan antara orang-orang Dayak dan Madura, melainkan antara orang-orang Melayu dan Madura. Kendati terdapat fakta bahwa hanya ada beberapa orang Dayak saja yang terlibat, tetapi media massa membesar-besarkan keterlibatan Dayak. Sebagian karena orang-orang Melayu yang terlibat menggunakan simbol-simbol budaya Dayak saat kerusuhan terjadi.


Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Adat Dayak

Meskipun banyak orang berbicara mengenai kebudayaan Dayak, namun sedikit sekali yang mempublikasikannya secara tertulis. Aspek sosial ekonomi dalam kebudayaan Dayak memang belum banyak diteliti dan diketahui orang, karena dinamika kehidupan sosial orang Dayak lebih menonjol daripada kehidupan ekonominya. Padahal aspek sosial dan as- pek ekonomi adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam kebudayaan. Sebab kehidupan sosial mempengaruhi ekonomi dan sebaliknya. Apakah benar bahwa orang Dayak lebih mementingkan hal-hal sosial daripada hal-hal ekonomi dalam kehidupan bermasyarakat atau lebih suka “bersosial” daripada “berekonomi?. (M.J. Akin Alif, 1997, Mencermati Dayak Kanayant, Institut Dayakologi, Pontianak).
Secara eksplisit dapat digambarkan bahwa kehidupan Masyarakat Adat Dayak di perkampungan masih sangat mementingkan aspek sosial dibanding ekonomi. Meski demikian, harus diakui bahwa semakin hari kepentingan ekonomi lebih mendominasi terutama karena sifat konsumtif yang semakin besar. Berikut adalah kondisi sosial-ekonomi Masyarakat Adat Dayak di beberapa subsuku Dayak, diantaranya Dayak Jalai, Pompankg, Kanayant, Simpang dan Dayak Bukit. Semua paparan ini diambil dari hasil riset Institut Dayakologi yang tertuang dalam beberapa buku.
Dari hasil pengamatan di lapangan, sumber mata pencaharian Masyarakat Adat Dayak Pompakng dapat digambarkan sebagai berikut :
  1. Ladang, Ladang bagi Masyarakat Adat Dayak Pompakng merupakan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan pangan yang dilakukan dari turun-temurun. Di ladang ditanam padi sebagai tanaman utama. Sedangkan tanaman-tanaman lainnya adalah berbagai jenis sayur-mayur, jagung, ketela pohon dan ketela rambat, keladi, jahe, lengkuas, dan sebagainya.
  2. Karet, Karet yang ada di wilayah ini merupakan karet alam. Karet ini ditanam di ladang setelah selesai panen padi. Pola-pola pengelolaan kebun karet tidak dilakukan secara monokultur tetapi ditanam bersama dengan pohon buah-buahan, dan pepohonan hutan lainnya dibiarkan hidup bersamaan dengan pohon karet itu. Karet yang demikian dapat bertahan sampai 50-60 tahun, dan setelah itu dapat diladangi kembali untuk dua periode perladangan dengan selang waktu satu tahun. Setelah itu, ditanami kembali dengan karet muda. Karet dijual ke pasar lokal dalam bentuk unsmoke sheet dan jinton (nomor dua) untuk memperoleh uang tunai.
  3. Kerajinan, Kerajinan bagi Masyarakat Adat Dayak Pompakng, adalah bagian dari hidup mereka. Kerajinan ini biasanya dikerjakan saat waktu senggang yang merupakan pekerjaan sampingan/tambahan, terkecuali sudah tidak mampu lagi bekerja di ladang. Khusus untuk penduduk di kampung Kamokng dan Borakng, kerajinan anyam-anyaman merupakan salah satu sumber penghasilan mereka. Kerajinan anyam-anyaman bernuansa motif Dayak yang dihasilkan mereka selain dapat dijadikan sumber penghasilan juga merupakan ciri khas mengingat beberapa di kampung lain yang juga bagian dari Masyarakat Adat Dayak Pompakng tidak menggeluti kerajinan tersebut. Hasil kerajinan, tersebut mereka pasarkan ke Kota Sanggau dan seluruh pesisir Sungai Kapuas hingga ke Meliau dengan menggunakan alat transportasi motor tempel, bahkan hingga ke Ibu Kota Propinsi.
  4. Berburu, Berburu bagi Masyarakat Adat Dayak Pompakng merupakan bagian dari budaya yang dapat menunjang perekonomian. Hasil buruan dapat dijual dan menambah penghasilan keluarga. Namun, keberadaan budaya berburu pada hakikatnya sangat tergantung pada kondisi alam yang erat kaitannya dengan habitat binatang buruan. Karena habitat binatang buruan ini biasanya lebih senang menghuni hutan lebat/rimba, oleh sebab itu jika hutan tidak terpelihara dengan baik maka dapat dipastikan tradisi berburu ini juga tidak bisa dilakukan. Untuk mengetahui tradisi berburu dapat di lihat pada pembahasan tradisi lisan Masyarakat Adat Dayak Pompakng.
  5. Borageh, Borageh merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam usaha mengatasi perekonomian keluarga bagi Masyarakat Adat Dayak Pompakng. Borageh dalam masyarakat luas lebih identik dengan berjualan di kaki lima yang menjual dagangan yang bersumber dari hasil kebun atau hutan. Borageh pada hakikatnya merupakan mata pencaharian alternatif untuk menambah penghasilan keluarga. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan kegiatan borageh menjadi mata pencaharian pokok, seperti: menoreh, maupun tradisi berladang.



Kadaan Geografis

Geografi dan alam suku Dayak Mayau Pada umumnya di lihat dari kontur muka bumi wilayah kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau Kalimantan barat ini terdiri dari sebagian besar perbukitan, kemudian didominasi oleh rawa-rawa.Wilayah ini dialiri oleh Sungai Sekayam dan dikelilingi oleh perbukitan-perbukitan yang mengurung wilayah Bonti. Hutan hujan tropis masih mendominasi tetapi pada akhir-akhir ini perkebunan sawit mulai merambah masuk dan hutan hujan tropis mulai berkurang di beberapa tempat tak terkecuali di wilayah Ketemenggungan Suku Dayak Mayau, bukan hanya perkebunan kelapa sawit juga akhir-akhir ini HPH dan peti (penambangan tanpa izin )juga ikut serta dalam pembabatan wilayah tersebut.




0 komentar:

Poskan Komentar