Minggu, 05 Mei 2013

SUKU TENGGER DI BROMO




Asal Usul suku Tengger


Tengger, suatu dataran tinggi di Jawa Timur, kerap dikaitkan dengan nama suku setempat yakni suku Tengger. Asal usul suku Tengger sendiri jika dikilas balik kembali berawal pada suatu waktu di masa pemerintahan dinasti Brawijaya  di Majapahit. Alkisah bergembiralah sang ratu dikaruniai anak yang saat lahir tidak menangis seperti lazimnya anak baru lahir. Oleh karena keistimewaannya itu, bayi tersebut diberi nama ” RORO ANTENG “. Sementara itu di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra yang fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras ketika lahir, dan karenanya bayi tersebut diberi nama ” JOKO SEGER “.
Ketika beranjak dewasa, keduanya pun saling jatuh cinta, sementara itu situasi di kerajaan Majapahit sedang terjadi kemerosotan moral para pejabat kalangan istana yang berbuah kemunduran kerajaan. Beberapa orang kepercayaan istana dan sebagian keluarganya memutuskan pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar hijrah ke kawasan pegunungan Bromo – Semeru, termasuk Roro Anteng dan Joko Seger. Sekian lama mereka memimpin rakyat d wilayah ini, hati mereka masih saja merasa hampa dan sedih karena belum dikaruniai seorang pun anak. Pergilah Joko Seger dan Roro Anteng bersemedi di puncak gunung Bromo, akhirnya harapan mereka pun dikabulkan Hyang Kuasa..
Terlihatlah suatu pertanda lidah api yang bersinar keluar dari kawah gunung, yang mana hal ini menjadi pertanda yang menyatakan mereka akan hidup sejahtera, beranak – pinak hingga seluruh keturunannya memenuhi kawasan tersebut. Dalam hati mereka mengucap syukur kepada Sang Murbeng Pasti dan mengucap kaul akan mengorbankan putra bungsunya ke gunung tempat mereka bersemedi. Kemudian Roro Anteng mengandung anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki diberi nama temenggung Klewung, tak terasa waktu berjalan sekian lama. Roro Anteng dan Joko Seger dikaruniai 25 orang anak laki-laki, yang bungsu diberi nama Raden Kusuma.
Setelah mereka dikaruniai sekian banyak anak, tiba saatnya mereka harus mengorbankan si bungsu. Tetapi mereka tidak tega melakukannya terhadap sang anak yang begitu dikasihi. Singkat cerita, mereka tidak pernah melaksanakan kaulnya itu, justru bersama keduapuluhlima anaknya, Joko Seger dan Roro Anteng mencoba bersembunyi, dengan si bungsu diletakkan di tengah – tengah di antara saudara – saudaranya. Namun tanpa disangka – sangka, pada bulan Kasada, gunung tempat Roro Anteng dan Joko Seger bersembunyi mengeluarkan api, yang bahkan menjilat dan menyeret Raden Kusuma putera bungsunya itu ke dalam kawah.
Selesai bencana tersebut, terdengarlah suara gaib yang berkata :” Hai saudara-saudaraku yang masih hidup, hiduplah rukun dan abadi, biarlah saya Dewa Kusuma menghadap Hyang Kuasa mewakilkan saudara-saudara sekalian untuk memenuhi janji orangtua kita kepada Hyang Kuasa, ingatlah selalu tiap bulan Kesada, kenanglah dengan mengirim hasil tani kalian. ” Sampai sekarang adat istiadat ini dilakukan secara turun menurun menjadi upacara yang digelar dengan nama UPACARA KASADA. Nama suku Tengger sendiri merupakan gabungan kata dari nama Roro anTENG dan joko seGER, leluhur suku Tengger yang bermukim di wilayah Bromo-Tengger-Semeru. Seperti sifat masyarakat suku Tengger, Tengger pun bermakna TENGGER ING BUDI LUHUR yang berarti : Tempat Tinggalnya Orang – Orang Yang BERBUDI LUHUR.

Sistem Kebudayaan Suku Tengger.
Menurut C Kluckhon dalam bukunya categories of culture menemukakan sistem kebudayaan yang secara Universal dimiliki oleh seluruh masyarat didunia, yang unsur-unsurnya meliputi sistem bahasa , sistem kesenian, sistem teknologi, sistem religi, sistem kemasyarakatan, sistem pengetahuan dan sistem mata pencarian. Pada masyarakat suku Tengger Unsur-unsur kebudayaan universial itu sebagai berikut :
1. Sistem Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh suku tengger adalah bahasa jawa tapi dialek yang digunakan berbeda yaitu dialek tengger. Dialek tengger dituturkan di daerah gunung brom termasuk di wilayah pasuruan, probolinggo, malang dan lumanjang. Dialek ini dianggap turunan bahasa kawi, dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tidak digunakan dalam bahasa jawa modern.
1. Sistem Kesenian
- Seni Tari
Tari yang biasa dipentaskan adalah tari Roro Anteng dan Joko Seger yang dimulai sebelum pembukaan upacara Kasada.
- Seni bangunan
Bangunan untuk peribadatan berupa pura disebut punden, danyam, dan poten. Poten adalah sebidang tanah dilautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten dibagi menjadi tiga mandala atau zone yaitu :
1. mandala utama disebut jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan yang terdiri dari padma, bedawang, nala, bangunan sekepat, dan kori agung candi bentar.
2. mandala madya atau zone tengah, disebut juga jaba tengah yaitu tempat persiapan pengiring upacara yang terdiri dari kori agung candi bentar bale kentongan, dan Bale Bengong.
3. mandala nista atau zone depan, disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralhian dari luar kedalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar dan bangunan penunjang lainnya.

 Sistem Kemasyarakatan
Masyarakat tengger menjungjung tinggi nilai persamaan, demokrasi, dan kehidupan masyarakat, sosok seorang pemimpin spritual seperti duun lebih disegani dari pada pemimpin administratif. Masyarakat tengger memunyai hukum sendiri diluar hukum formal yang berlaku alam negara. Dengan hukum itu mereka sudah bisa mengatur an mengendalikan berbagi persoalan dalam kehidupan masyarakatnya.

Sistem Pengetahuan
Sistem Pengetahuan masyarakat tengger pada umumnya masih tradisional, an masih berorientasi paa kebudayan lama, namun karna aanya pengaruh dari luar melalui pariwisata maupun komunikasi maka sistem pengetahuannya sudah mulai mengacu ke sistem pengetahuan yang modern.

Sistem Mata Pencarian
Sistem mata pencarian masyarakat suku tengger kebanyakan adalah petani dan penambang, tanaman yang diusahakan adalah sayur-sayuran sedangakan dalam hal penambangan, yang ditambang adalah pasir dan belerang.



0 komentar:

Poskan Komentar